Perjalanan menempuh pendidikan tinggi bukanlah jalan yang selalu mulus. Di balik jubah wisuda dan senyuman kebanggaan, tersimpan cerita tentang keringat, air mata, serta pengorbanan yang tak terlihat. Kisah tersebut nyata dialami Fahruddin, pemuda asal Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik IAIN Parepare Tahun 2026.
Lahir di Kanang pada 20 Agustus 2000 dari pasangan Mursalim dan Tahira Wati, Fahruddin sukses merampungkan studi pada Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam (Fakshi), hanya dalam waktu 3 tahun, 9 bulan, dan 17 hari dengan pencapaian akademik gemilang, yakni IPK sempurna 4,00.
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari kemeriahan Prosesi Wisuda Sarjana dan Magister Tahap II Tahun 2026 yang digelar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung di Auditorium IAIN Parepare pada Kamis, 20 Agustus 2026, yang diikuti lulusan Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam (Fakshi), serta Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD).
Menjadi yang terbaik tentu bukanlah sesuatu yang diraih secara instan. Fahruddin mengungkapkan, masa paling berat selama kuliah adalah ketika harus menghadapi akumulasi kelelahan fisik, tekanan akademik, kerinduan mendalam kepada keluarga, serta kewajiban membagi waktu antara tugas kuliah dan tanggung jawabnya di Ma’had Al-Jami’ah.
“Ada masa ketika saya merasa ingin berhenti sejenak. Tetapi, setiap kali rasa lelah itu datang, saya kembali mengingat tujuan awal saya kuliah dan harapan orang tua. Lelah boleh, tetapi menyerah bukan pilihan,” kenang Fahruddin penuh keteguhan.
Harga terbesar yang harus ia bayar demi meraih gelar tersebut adalah waktu, kenyamanan, dan kesempatan menikmati masa muda seperti orang seusianya. Namun, ia membuktikan bahwa pengorbanan tersebut terbayar melalui kedisiplinan, doa, serta konsistensi dalam menjalankan hal-hal kecil.
Sebagai “ritual” penunjang prestasi, Fahruddin memiliki kebiasaan unik, yakni selalu mengajarkan kembali materi perkuliahan yang diperolehnya kepada para mahasantri. Ia juga membiasakan diri membuat target-target kecil, menyelesaikan tanggung jawab sedini mungkin, serta melakukan evaluasi diri secara berkala.
Ia menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak diraih seorang diri. Fahruddin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para dosen pembimbing dan mentornya, yakni Dr. M. Ali Rusdi Bedong, S.Th.I., M.H.I., Dr. Budiman, S.Ag., M.H.I., dan Dr. Aris, M.H.I., serta rekan-rekan seangkatannya di kelas HKI-C.
Kepada kedua orang tuanya, ia mempersembahkan pencapaian istimewa tersebut dengan penuh rasa haru.
“Terima kasih karena telah mempercayai saya ketika saya sendiri pernah meragukan kemampuan saya. Gelar ini bukan hanya milik saya, tetapi juga milik Bapak, Ibu, dan semua orang yang telah mendoakan,” ungkapnya.
Bagi Fahruddin, satu kata yang paling mewakili perjalanan kuliahnya adalah perjuangan. Setelah menanggalkan status sebagai mahasiswa IAIN Parepare, ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta mengabdikan ilmu Hukum Keluarga Islam agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.